Mengingat Kembali
Masih ingatkah ?
Saat pertama kali aku lihat kau menangis karena sebuah perpisahan,bukan karena sedang patah hati atau apa,akan tetapi karena engkau merasa moment yang telah di rajut selama kurang lebih satu bulan telah usai dan hanya siap untuk di kenang,dan aku juga merasa seperti itu,akan tetapi waktu berkata lain,karena ada seseorang yang masih tinggal di hidupku orang yang sebelumnya aku ceritakan sebagai rumah dengan kenyamanan.
Sempat terpikir di benaku ketika moment itu selesai ya akan selesai juga percakapan aku dan kamu,ternyata aku salah.dimulai dari salam terima kasih untuk satu bulanya,kamu menarik perhatianku bagaimana bisa seseorang begitu peduli dengan orang yang dia baru kenal,tapi rasa nyaman mengalahkan segalanya mengalahkan logika orang-orang awam untuk berpendapat.karena sepandai-pandai nya orang ber asumsi tentang sebuah kehidupan tidak akan bisa sama dengan orang yang menjalani.
Aku memutuskan untuk tetap melanjutkan cerita ini mengukir moment demi moment sederhana tapi tak rela untuk di lupakan.satu bulan lebih aku berproses dengan realitas yang ada dengan perasaan yang tebolak balik.sampai saat ini pun aku belum menentukan sikap terkait menyerah atau bertahan karena semuanya adalah pilihan.
Beberapa waktu ini emang tidak ada hal intens yang kita lakukan,entah kenapa aku juga tidak tahu jawabnya,aku bisa berpikir tentang persepsi-persepsiku mengapa ini bisa terjadi akan tetapi hati belum bisa menuntun ke jalan itu,karena sampai saat ini aku masih merasa kau lah yang terbaik.untuk waktu ini aku hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya,dan dalam bisikan do'a. memastikan kabarmu pun aku masih lewat perantara antara kau dan sahabatmu untuk memastikan kau baik-baik saja.
Aku memang belum bisa mengerti semua tapi aku belajar kalau cinta itu membebaskan,tidak menentukan ke mana arah akan pergi,kau punya jalan sendiri dan begitu pula dengan aku,semoga kita mengarah ke jalan yang sama,amiin.sempat terbesit untuk menyerah akan tetapi alasan di awal cerita yang membuatku tetap di jalan ini.berjuang,jatuh berulang,kembali bangkit itu sudah hal biasa.
Seorang teman pernah berkata kepada ku, ketika mencintai seseorang, kamu menjadi budak. Kamu budak bagi perasaanmu sendiri, terutama rasa takut kehilangan, yang kemudian membuatmu melakukan apapun demi mempertahankan orang yang kamu cintai. Walaupun sebetulnya kamu tahu hubunganmu dengannya tidak berkembang ke arah yang lebih baik, kamu tetap mempertahankannya. Kenapa? Karena kamu takut kehilangan. Kamu tidak ingin membayangkan rasanya terbangun di pagi hari tanpa sapaan selamat pagi atau telepon dari seseorang yang bermakna bagimu.
Perjalanan akan menuntunmu ke tempat yang terbaik,dan semua cerita yang kau awali akan mempunyai titik akhirnya sendiri.entah itu bahagia ataupun tidak.konsisten pada jalanmu,usaha dan do'a akan mengiringi langkahmu.
tetaplah terbang tinggi.
Saat pertama kali aku lihat kau menangis karena sebuah perpisahan,bukan karena sedang patah hati atau apa,akan tetapi karena engkau merasa moment yang telah di rajut selama kurang lebih satu bulan telah usai dan hanya siap untuk di kenang,dan aku juga merasa seperti itu,akan tetapi waktu berkata lain,karena ada seseorang yang masih tinggal di hidupku orang yang sebelumnya aku ceritakan sebagai rumah dengan kenyamanan.
Sempat terpikir di benaku ketika moment itu selesai ya akan selesai juga percakapan aku dan kamu,ternyata aku salah.dimulai dari salam terima kasih untuk satu bulanya,kamu menarik perhatianku bagaimana bisa seseorang begitu peduli dengan orang yang dia baru kenal,tapi rasa nyaman mengalahkan segalanya mengalahkan logika orang-orang awam untuk berpendapat.karena sepandai-pandai nya orang ber asumsi tentang sebuah kehidupan tidak akan bisa sama dengan orang yang menjalani.
Aku memutuskan untuk tetap melanjutkan cerita ini mengukir moment demi moment sederhana tapi tak rela untuk di lupakan.satu bulan lebih aku berproses dengan realitas yang ada dengan perasaan yang tebolak balik.sampai saat ini pun aku belum menentukan sikap terkait menyerah atau bertahan karena semuanya adalah pilihan.
Beberapa waktu ini emang tidak ada hal intens yang kita lakukan,entah kenapa aku juga tidak tahu jawabnya,aku bisa berpikir tentang persepsi-persepsiku mengapa ini bisa terjadi akan tetapi hati belum bisa menuntun ke jalan itu,karena sampai saat ini aku masih merasa kau lah yang terbaik.untuk waktu ini aku hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya,dan dalam bisikan do'a. memastikan kabarmu pun aku masih lewat perantara antara kau dan sahabatmu untuk memastikan kau baik-baik saja.
Aku memang belum bisa mengerti semua tapi aku belajar kalau cinta itu membebaskan,tidak menentukan ke mana arah akan pergi,kau punya jalan sendiri dan begitu pula dengan aku,semoga kita mengarah ke jalan yang sama,amiin.sempat terbesit untuk menyerah akan tetapi alasan di awal cerita yang membuatku tetap di jalan ini.berjuang,jatuh berulang,kembali bangkit itu sudah hal biasa.
Seorang teman pernah berkata kepada ku, ketika mencintai seseorang, kamu menjadi budak. Kamu budak bagi perasaanmu sendiri, terutama rasa takut kehilangan, yang kemudian membuatmu melakukan apapun demi mempertahankan orang yang kamu cintai. Walaupun sebetulnya kamu tahu hubunganmu dengannya tidak berkembang ke arah yang lebih baik, kamu tetap mempertahankannya. Kenapa? Karena kamu takut kehilangan. Kamu tidak ingin membayangkan rasanya terbangun di pagi hari tanpa sapaan selamat pagi atau telepon dari seseorang yang bermakna bagimu.
Perjalanan akan menuntunmu ke tempat yang terbaik,dan semua cerita yang kau awali akan mempunyai titik akhirnya sendiri.entah itu bahagia ataupun tidak.konsisten pada jalanmu,usaha dan do'a akan mengiringi langkahmu.
tetaplah terbang tinggi.
Comments
Post a Comment